Search for:
  • Home/
  • Digital Sai/
  • Kompas Catat Tantangan Pelaksanaan Kelas Digital Huma Betang
Kompas Catat Tantangan Pelaksanaan Kelas Digital Huma Betang

Kompas Catat Tantangan Pelaksanaan Kelas Digital Huma Betang

Digitalsaigroup.comSurvei terbaru yang dilakukan oleh Litbang Kompas menyoroti sejumlah tantangan signifikan dalam pelaksanaan Kelas Digital Huma Betang, program pembelajaran digital yang bertujuan meningkatkan literasi dan keterampilan digital komunitas belajar. Hasil survei ini memberikan gambaran jelas tentang hambatan teknis, kesiapan digital, serta faktor-faktor yang memengaruhi efektivitas kelas di era pendidikan berbasis teknologi.

Kelas Digital Huma Betang dirancang untuk menjangkau masyarakat luas, termasuk siswa, guru, dan komunitas pembelajaran di wilayah pedesaan maupun perkotaan. Program ini menggunakan berbagai platform digital untuk menyampaikan materi, tugas interaktif, dan forum diskusi online. Namun, survei Litbang Kompas menunjukkan bahwa realitas di lapangan masih menghadapi sejumlah kendala.

Hambatan teknis menjadi salah satu masalah utama. Beberapa responden menyebut keterbatasan perangkat seperti komputer, laptop, atau tablet sebagai kendala besar. Selain itu, kualitas jaringan internet yang belum merata juga memengaruhi kelancaran pelaksanaan kelas digital. Di beberapa daerah, sinyal lemah membuat peserta sulit mengikuti sesi tatap muka daring secara penuh, sehingga pengalaman belajar menjadi terputus-putus dan tidak optimal.

Selain kendala perangkat dan jaringan, kesiapan digital peserta dan pengajar juga menjadi sorotan. Survei menunjukkan bahwa sebagian guru belum sepenuhnya menguasai teknologi pembelajaran digital. Hal ini berdampak pada penyampaian materi, interaksi dengan peserta, dan pemanfaatan fitur-fitur platform digital secara maksimal. Di sisi peserta, literasi digital yang bervariasi membuat sebagian siswa kesulitan mengakses materi atau mengikuti tugas secara efektif.

Litbang Kompas juga mencatat tantangan lain terkait partisipasi dan motivasi peserta. Tidak semua komunitas belajar memiliki pengalaman dalam pendidikan daring, sehingga adaptasi terhadap metode baru memerlukan waktu dan bimbingan ekstra. Selain itu, sebagian peserta menghadapi tekanan ekonomi yang membuat mereka sulit mengalokasikan waktu untuk kelas digital, meskipun program ini digagas untuk meningkatkan keterampilan yang dibutuhkan di era digital.

Survei ini memberikan sejumlah rekomendasi penting bagi pengelola Kelas Digital Huma Betang. Pertama, perlu ada peningkatan infrastruktur dan akses perangkat bagi peserta dan pengajar, agar semua dapat terlibat secara merata. Kedua, pelatihan literasi digital bagi guru dan fasilitator harus terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas penyampaian materi dan interaksi dengan peserta. Ketiga, penyediaan konten yang ramah pengguna, interaktif, dan adaptif menjadi kunci agar peserta dapat belajar efektif tanpa terbebani oleh kesulitan teknis.

Selain itu, survei menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan komunitas lokal untuk memastikan program berjalan berkelanjutan. Dukungan dari berbagai pihak dapat membantu mengatasi kendala teknis, meningkatkan kesiapan digital, dan mendorong partisipasi aktif peserta.

Kesimpulannya, Kelas Digital Huma Betang memiliki potensi besar untuk meningkatkan literasi dan keterampilan digital masyarakat. Namun, hambatan teknis, kesiapan digital, dan masalah partisipasi masih menjadi tantangan nyata. Survei Litbang Kompas menjadi pengingat penting bahwa inovasi pendidikan digital tidak hanya soal teknologi, tetapi juga kesiapan manusia dan komunitas untuk beradaptasi. Dengan langkah-langkah strategis, program ini dapat menjadi solusi efektif untuk pembelajaran digital yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia.