Search for:
  • Home/
  • Digital Sai/
  • Akademisi Ingatkan Ancaman Polarisasi di Era Demokrasi Digital
Akademisi Ingatkan Ancaman Polarisasi di Era Demokrasi Digital

Akademisi Ingatkan Ancaman Polarisasi di Era Demokrasi Digital

Digitalsaigroup.comDi era demokrasi digital yang semakin berkembang, para akademisi kini mengingatkan masyarakat dan pengambil kebijakan tentang ancaman serius polarisasi politik, khususnya di media sosial dan platform digital. Polarisasi terjadi ketika masyarakat terpecah menjadi kelompok‑kelompok dengan pandangan politik yang sangat berbeda dan cenderung saling bertentangan, yang tidak hanya memperburuk perbedaan pendapat tetapi juga berpotensi meningkatkan ketegangan antarkelompok.

Fenomena ini semakin mengkhawatirkan karena media sosial dan algoritma platform sering memperkuat bias yang sudah dimiliki pengguna, mempersempit ruang dialog yang sehat, dan mendorong munculnya echo chamber dan filter bubbles yakni lingkungan informasi yang hanya memperlihatkan pandangan yang sesuai dengan preferensi pengguna.

Polarisasi Politik, Ancaman bagi Demokrasi Digital

Menurut studi akademik, polarisasi politik bukan hanya perbedaan pendapat biasa, tetapi juga sebuah kondisi di mana perbedaan itu menjadi sangat tajam sehingga membentuk kelompok yang saling menolak dan kurang bersedia menerima pandangan lawan. Ketika media sosial memperkuat pandangan ekstrem dan menyembunyikan pandangan moderat, diskusi politik cenderung menjadi tidak sehat dan penuh emosi.

Hal ini bisa mengancam nilai‑nilai dasar demokrasi seperti persatuan nasional, toleransi, dan dialog rasional. Jika masyarakat terus terjebak dalam narasi yang ekstrem dan terpisah, hal ini dapat menghambat kemampuan demokratis untuk mencapai kesepakatan atau kompromi dalam kebijakan publik.

Dalam konteks Indonesia, polarisasi politik juga menjadi fokus perhatian akademisi karena dampaknya yang mengarah pada fragmentasi sosial dan konflik ideologis di masyarakat. Polarisasi dapat terjadi di beragam aspek termasuk identitas, kebijakan publik, hingga kepercayaan terhadap lembaga demokrasi dan makin diperparah ketika konten provokatif dan emosional menjadi yang paling banyak dibagikan dalam ruang digital.

Peran Media Sosial dalam Polarisasi

Penelitian menunjukkan bahwa media sosial sering berkontribusi besar dalam memperkuat polarisasi dengan memanfaatkan algoritma yang memprioritaskan konten berdasarkan keterlibatan pengguna. Algoritma ini cenderung menayangkan konten yang emosional atau kontroversial, yang justru memperdalam perbedaan pandangan dan mempersempit peluang dialog yang sehat.

Disinformasi dan hoaks juga memperburuk situasi, karena konten palsu lebih mudah menyebar jika sesuai dengan bias kelompok tertentu. Konten provokatif dan narasi yang memecah belah sering menjadi viral jauh lebih cepat daripada konten yang netral atau berimbang. Ini menjadi tantangan besar dalam menjaga kualitas demokrasi digital yang sehat.

Peringatan Akademisi dan Implikasi Demokrasi

Akademisi dan peneliti menyatakan bahwa tanpa kebijakan dan strategi yang kuat, polarisasi digital dapat melemahkan fondasi demokrasi. Ketika masyarakat hanya melihat sudut pandang yang selaras dengan pandangan mereka sendiri, ruang debat publik menjadi sempit, dan kemampuan untuk memahami sudut pandang lain berkurang. Ini pada akhirnya dapat merusak kohesi sosial dan kepercayaan terhadap institusi demokrasi.

Lebih jauh lagi, polarisasi yang tidak terkendali juga menimbulkan risiko konflik sosial yang lebih luas, bahkan di dunia nyata. Ketika friksi digital berubah menjadi konflik antar kelompok di masyarakat, efeknya tidak hanya dirasakan secara digital, tetapi juga dalam kehidupan sosial sehari‑hari.

Upaya Mitigasi dan Solusi

Untuk menghadapi tantangan ini, akademisi menekankan bahwa literasi digital yang kuat menjadi kunci. Literasi digital harus mencakup pemahaman tentang cara kerja algoritma media sosial, keterampilan kritis dalam mengevaluasi konten, serta kemampuan untuk mencari dan memahami sumber yang beragam.

Selain itu, para peneliti juga mengusulkan adanya kebijakan yang lebih transparan mengenai moderasi konten dan algoritma pada platform digital, sehingga pengguna tidak hanya terpapar konten yang memperkuat bias mereka sendiri. Kerja sama antara pemerintah, platform teknologi, akademisi, dan masyarakat sipil dinilai penting untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan demokratis.

Era demokrasi digital membuka ruang partisipasi politik yang lebih luas, tetapi juga membawa tantangan baru seperti polarisasi yang dapat mengancam kualitas demokrasi itu sendiri. Para akademisi mengingatkan bahwa tanpa upaya sistematis untuk meningkatkan literasi digital dan regulasi platform yang lebih adil, masyarakat berisiko terjebak dalam fragmentasi informasi yang dapat memperlemah proses demokrasi. Tanggapan kolektif dari semua pemangku kepentingan diperlukan untuk memastikan bahwa teknologi digital menjadi alat yang memperkuat bukan merusak demokrasi.