Search for:
  • Home/
  • Inovasi Digital/
  • Indonesia and Saudi Arabia Synchronize Digital Systems for Enhanced Hajj Services
Indonesia and Saudi Arabia Synchronize Digital Systems for Enhanced Hajj Services

Indonesia and Saudi Arabia Synchronize Digital Systems for Enhanced Hajj Services

Digitalsaigroup.comPersiapan penyelenggaraan Ibadah Haji 1447 H/2026 M semakin matang dengan langkah strategis baru antara Indonesia dan Kerajaan Arab Saudi: memperkuat integrasi sistem digital yang menghubungkan kedua negara untuk layanan yang lebih aman, cepat, dan terkoordinasi. Kolaborasi ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam tata kelola haji modern dan meningkatkan pengalaman jutaan jemaah Indonesia setiap tahunnya.

Integrasi digital bukan sekadar adopsi teknologi, tetapi mencerminkan komitmen kedua negara untuk menyederhanakan alur registrasi, pemantauan, serta layanan operasional haji secara berkesinambungan. Dalam forum Saudi‑Indonesian Umrah Co‑Exchange di Makkah (16 Februari 2026), Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, menegaskan pentingnya konektivitas data antara sistem Indonesia dan Arab Saudi demi kenyamanan serta perlindungan jemaah Indonesia.

Sinergi Digital Menuju Layanan Haji Terpadu

Integrasi yang diperkuat mencakup sejumlah aspek pelayanan, mulai dari proses visa, akomodasi, layanan kesehatan, hingga pemantauan kepulangan jemaah. Sistem digital ini mampu memastikan bahwa proses teknis maupun administratif berjalan lancar tanpa hambatan signifikan.

“Integrasi sistem ini bukan sekadar modernisasi teknologi, tetapi tentang keselamatan dan kenyamanan jemaah,” ujar Menhaj RI.

Salah satu komponen penting dari integrasi digital ini adalah pemanfaatan platform digital Saudi seperti Nusuk, sebuah ekosistem digital resmi yang telah digunakan oleh jutaan jemaah di berbagai negara. Nusuk mencakup pendaftaran visa, pemilihan paket haji, hingga akses layanan lain seperti akomodasi dan transportasi di Arab Saudi. Platform ini telah mencapai lebih dari 30 juta pengguna dari 190 negara, menunjukkan jangkauan globalnya dan perannya dalam mempermudah ibadah haji umat Muslim di seluruh dunia.

Indonesia sebelumnya juga telah menyatakan kesiapan untuk mengembangkan sistem yang dapat terhubung langsung dengan Nusuk dan sistem digital Saudi lainnya. Upaya ini bukan hanya mencakup hibah data atau sinkronisasi administratif, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses jemaah terpantau secara real time dan terkoordinasi.

Peningkatan Keamanan dan Kenyamanan Jemaah

Kolaborasi digital ini bertujuan utama meningkatkan aspek keselamatan dan kenyamanan jemaah, terutama di tengah kompleksitas logistik yang melekat pada penyelenggaraan ibadah haji yang melibatkan jutaan orang. Dengan sistem digital yang terintegrasi, proses seperti pelacakan jemaah, manajemen kerumunan, serta respons terhadap situasi darurat dapat dilakukan lebih efektif dan cepat. Teknologi digital yang terkoordinasi memberi otoritas di kedua negara visibilitas tinggi terhadap data penting seperti lokasi jemaah, status visa, dan layanan kesehatan.

Perbaikan digital ini juga mencakup pengawasan kesejahteraan jemaah dari awal keberangkatan hingga masa pulang, sehingga seluruh perjalanan haji dapat dipantau dengan lebih akurat. Hal tersebut dianggap penting mengingat besarnya jumlah jemaah Indonesia yang mengikuti ibadah haji setiap tahun terutama setelah otoritas Saudi membuka pendaftaran visa lebih awal dan memperkenalkan mekanisme digital baru yang mempermudah calon jemaah merencanakan perjalanan mereka dengan lebih tenang.

Optimalisasi Layanan Kemenhaj RI dan Tantangan Teknis

Meskipun berbagai sistem digital dikembangkan, tantangan teknis tetap muncul dalam implementasinya, termasuk dalam hal penyesuaian data, pelatihan sumber daya manusia, serta kesiapan infrastruktur digital di tingkat lokal Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj RI) terus mengoptimalkan Sistem Informasi dan Komputerisasi Haji Terpadu (Siskohat), yang merupakan tulang punggung penyelenggaraan haji di Indonesia. Siskohat memegang peran strategis dalam pengelolaan data akomodasi, transportasi, hingga kesehatan jemaah secara terintegrasi.

“Menyederhanakan proses, dari pendaftaran awal hingga layanan setelah tiba di Tanah Suci, adalah prioritas kami,” kata salah satu pejabat Kemenhaj.

Integrasi dengan sistem digital Arab Saudi diyakini akan membantu menyelesaikan sejumlah tantangan administratif dan operasional yang sering dihadapi jemaah termasuk kendala komunikasi dan koordinasi lintas negara.

Dukungan Layanan Digital Global

Kolaborasi digital ini juga sejalan dengan inovasi Saudi dalam mengelola layanan haji secara digital. Kerajaan Arab Saudi telah membuka akses registrasi visa haji melalui Nusuk lebih awal dari biasanya untuk Haji 2026, yang diharapkan membantu perencanaan yang lebih matang bagi jemaah dan operator perjalanan. Ini bagian dari strategi modernisasi yang lebih luas sesuai dengan Saudi Vision 2030 untuk meningkatkan pengalaman ibadah bagi jutaan Muslim global.

Digitalisasi layanan haji secara global semakin relevan di era digital saat ini, terutama dengan pesatnya perkembangan teknologi informasi dan jaringan komunikasi. Sinergi digital antara Indonesia dan Saudi ini menjadi salah satu contoh upaya konkret untuk mengintegrasikan sistem nasional dengan platform internasional guna memberikan layanan yang lebih baik kepada jemaah Indonesia.

Dengan langkah strategis ini, perjalanan haji 2026 diharapkan berjalan lebih teratur, aman, dan efisien sekaligus menunjukkan bagaimana teknologi digital dapat memperkuat kolaborasi antarnegara demi pelayanan terbaik bagi umat Muslim di dunia.