Jabar Digital Ecosystem Terus Jalan Meski Startup Hadapi Tantangan
Digitalsaigroup.com – Menteri Komunikasi dan Digital Republik Indonesia (Menkomdigi), Meutya Hafid, menegaskan komitmen kuat pemerintah dalam mengembangkan Jabar Digital Ecosystem meskipun banyak pelaku startup menghadapi tantangan berat dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini disampaikan dalam acara Jabar Ecosystem Report yang digelar di Garuda Spark Innovation Hub, Bandung, Senin (5/1/2026).
Meutya menyatakan bahwa meski ekosistem startup dan digital di kawasan Jawa Barat maupun nasional mengalami tekanan dalam tahun 2025, ini justru momentum untuk memperkuat kolaborasi antar pelaku industri, pemerintah, investor, dan komunitas digital agar bisa bertumbuh bersama.
“Tahun 2025 merupakan tahun penuh tantangan, bukan hanya bagi startup di Indonesia tetapi juga di ASEAN. Namun ini menjadi momentum untuk bangkit bersama,” ujar Meutya dalam sambutannya.
Apa Itu Jabar Digital Ecosystem?
Jabar Digital Ecosystem merupakan framework terintegrasi yang dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan dukungan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk menciptakan ruang digital yang terbuka, kolaboratif, dan efisien. Sistem ini mencakup berbagai platform digital seperti Open Data Jabar, Satu Peta Jabar, serta layanan data lainnya yang mendukung perumusan kebijakan berbasis data dan layanan publik yang lebih baik.
Diluncurkan secara resmi pada 27 September 2025, Jabar Digital Ecosystem terbilang masih muda baru berjalan sekitar tiga bulan namun telah menunjukkan potensi besar sebagai ruang bersama bagi startup, komunitas teknologi, akademisi, dan pengambil kebijakan untuk berkembang.
Tantangan Startup di Tengah Tekanan Ekonomi Digital
Selama 2025, industri startup di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara menghadapi berbagai tekanan, mulai dari terbatasnya akses pembiayaan, perubahan cepat tren teknologi global, hingga kompetisi yang semakin ketat. Hal ini juga tercermin dari laporan Garuda Spark, hub inovasi digital yang sebagian besar startup yang dikurasi baru berjalan fase awal.
Menurut laporan Komdigi, Garuda Spark di Bandung telah mengurasi dan mendampingi lebih dari 150 startup dalam tiga bulan pertama operasionalnya. Meski sebagian baru meluncurkan produk ke publik, pertumbuhan ini dipandang sebagai fondasi penting untuk jangka panjang.
Meutya menyoroti bahwa tantangan ini harus dilihat sebagai fase pembelajaran dan penguatan, bukan sekadar hambatan. Ia mendorong para pelaku ekosistem digital untuk terus adaptif, kreatif, serta terbuka pada kolaborasi lintas sektor.
Kolaborasi dan Kesetaraan dalam Ekosistem Digital
Salah satu poin penting yang disampaikan Meutya adalah bahwa ekosistem digital harus inklusif, tanpa sekat senioritas. Dalam era yang bergerak cepat ini, bukan siapa yang paling lama berkecimpung yang menang, tetapi siapa yang paling cepat belajar dan beradaptasi.
“Di ekosistem ini tidak ada yang merasa paling tinggi atau paling senior. Yang menentukan bukan siapa yang paling lama, tetapi kemauan untuk terus belajar dan berkembang,” tegasnya.
Pendekatan ini juga mencerminkan strategi pemerintah untuk menciptakan lingkungan kerja sama di mana startup baru mendapatkan perhatian yang sama dengan entitas yang lebih mapan. Hal ini penting agar gagasan kreatif yang berasal dari berbagai lapisan komunitas digital bisa berkembang dan memberi dampak nyata.
Ruang Kolaborasi yang Berkelanjutan
Meutya juga menekankan pentingnya ruang kolaborasi yang berkelanjutan, di mana pemangku kepentingan saling bertukar pengetahuan dan saling membangun. Garuda Spark menjadi salah satu contoh nyata dari upaya tersebut: bukan hanya sebagai tempat inkubasi, tetapi sebagai pusat pertemuan antara startup, investor, pemerintah, komunitas, dan pemangku kepentingan lain.
Menurut Meutya, Garuda Spark juga menjadi ‘mesin pemulihan’ kepercayaan dan daya tahan ekosistem digital di tengah tekanan global. Menurut dia, pemerintah hadir bukan sebagai pengambil alih peran kreatif, tetapi sebagai mitra strategis yang memperkuat fondasi startup serta membuka ruang bagi kolaborasi yang bermakna.
Pandangan Ke Depan: Pertumbuhan dan Kesiapan Talenta
Melihat ke depan, strategi nasional digital mencakup perluasan Garuda Spark ke luar Bandung, termasuk ke Jakarta dan wilayah lain, untuk menjangkau lebih banyak startup dan talenta digital. Target pemerintah adalah mencetak jutaan talenta digital hingga 2030 melalui program-program terkoordinasi lintas wilayah dan sektor.
Meutya menegaskan bahwa meski tantangan akan terus datang, ekosistem digital di Indonesia memiliki modal kreativitas dan potensi yang besar. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, ruang kolaboratif yang terbuka, serta semangat belajar yang tinggi, startup Indonesia diharapkan tidak hanya bertahan, tetapi tumbuh dan bersaing di kancah global.