Akademisi, Waspada Ruang Digital Bisa Jadi Arena Produksi Kekerasan
Digitalsaigroup.com – Di era di mana akses dan interaksi digital semakin mendominasi kehidupan sehari‑hari, sejumlah akademisi menegaskan bahwa ruang digital tidak hanya menjadi wadah informasi dan komunikasi, tetapi juga bisa berkembang menjadi arena produksi kekerasan simbolik dan konten berbahaya jika tidak dihadapi dengan literasi yang kuat dan perilaku online yang bijak.
Hal ini disampaikan oleh Radius Setiyawan, peneliti Budaya dan Media dari University of Muhammadiyah Surabaya (Umsura), yang mengamati bahwa ruang digital kini memperluas jangkauan produksi simbolik kekerasan, termasuk ideologi ekstrim yang sebelumnya lebih sering muncul secara fisik. Setiyawan menyoroti bahwa konten tertentu di internet khususnya yang memuat simbol atau narasi kekerasan bisa dengan mudah tersebar dan diterima tanpa filter kritis oleh pengguna daring.
“Ruang digital ini telah menjadi arena bagi produksi simbol kekerasan yang bisa memiliki dampak nyata di dunia nyata jika tidak diimbangi dengan pendidikan literasi digital yang memadai,” ujar Setiyawan dalam sebuah pernyataan yang dirilis awal tahun 2026.
Ancaman Kekerasan Digital Terus Menguat di Berbagai Kalangan
Data terbaru menunjukkan fenomena yang mengkhawatirkan terkait kekerasan dan ancaman di ruang digital. Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mencatat adanya pergeseran modus ancaman terorisme dari kekerasan fisik ke penyebaran ideologi ekstrem melalui media digital, termasuk konten intoleransi dan radikalisme yang terus muncul sepanjang 2025.
Menurut BNPT, penyebaran konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme mencapai lebih dari 21.000 konten sepanjang 2025, dengan kecenderungan konten berbahaya itu mudah diakses oleh anak dan remaja yang tak memiliki filter atau literasi digital yang mapan.
Bukan hanya terorisme, ancaman lain berupa perundungan siber, penyebaran konten kekerasan seksual, dan pelecehan online juga menjadi masalah serius di ruang digital yang sering kali tidak terlihat oleh mata publik maupun sistem hukum yang ada.
Menguatnya Kekerasan Digital, Tantangan di Era Informasi
Ruang digital telah memberi banyak manfaat bagi pendidikan, ekonomi, dan komunikasi global. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tanpa literasi yang memadai, media sosial dan platform online justru bisa memperkuat pola kekerasan verbal dan simbolik. Konten berbahaya sering kali tersebar tanpa batas dan bisa memengaruhi sikap, keyakinan, hingga tindakan seseorang.
Fenomena ini juga menyoroti bagaimana konten digital yang meresahkan dapat lebih cepat menjalar ke kehidupan nyata, terutama bagi kelompok rentan seperti anak‑anak, remaja, dan komunitas marginal. Peneliti internasional mengamati bahwa pelecehan online, intimidasi, dan bentuk agresi digital lainnya terus tumbuh seiring dengan meningkatnya penggunaan platform digital, dan hal ini menciptakan jurang yang tak hanya bersifat teknis, tetapi juga psikologis dan sosial.
Padahal, sebagaimana literatur akademik menegaskan, ruang digital juga berpotensi jadi domain produktif serta tempat pertukaran gagasan, pendidikan, dan hubungan sosial yang positif jika diisi dengan konten yang bertanggung jawab oleh penggunanya sendiri.
Pentingnya Literasi Digital di Tengah Tantangan Kekerasan Online
Menanggapi kondisi tersebut, akademisi dan pakar pendidikan besar‑besaran menyerukan pentingnya literasi digital sebagai kunci utama untuk menekan produksi kekerasan digital. Literasi digital yang mencakup kemampuan menilai kredibilitas informasi, memahami dampak psikososial konten, dan menggunakan perangkat digital secara bertanggung jawab dianggap sebagai keterampilan penting yang perlu diajarkan sejak dini, baik di sekolah maupun di lingkungan keluarga.
Sebagai contoh, seorang akademisi dari Universitas Indonesia pernah menjelaskan bahwa literasi digital tidak hanya penting untuk mengakses informasi, tetapi juga untuk membangun etika dan empati dalam berkomunikasi di ruang digital serta menyaring hoaks dan konten berbahaya yang mungkin memicu kekerasan.
Lebih dari sekadar teknis penggunaan internet, literasi digital juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memisahkan fakta dan opini, serta menyadari konsekuensi sosial dari setiap konten yang dibagikan atau dikonsumsi. Tanpa keterampilan ini, ruang digital bisa berubah menjadi zona di mana kekerasan simbolik dan agresi berkembang tanpa kontrol nyata.
Peran Semua Pihak untuk Ruang Digital yang Lebih Aman
Akademisi menekankan bahwa bukan hanya individu yang bertanggung jawab atas perilaku online melainkan seluruh lapisan masyarakat, termasuk lembaga pendidikan, orang tua, pembuat kebijakan, dan penyelenggara platform digital. Semua pihak perlu bekerja sama untuk:
- Mendorong pendidikan literasi digital secara sistematis di sekolah dan komunitas.
- Meningkatkan pengawasan terhadap konten berbahaya di platform digital.
- Menguatkan regulasi yang melindungi pengguna dari kekerasan online.
- Menciptakan budaya digital yang menghargai toleransi, empati, dan saling menghormati.
Hanya dengan pendekatan menyeluruh seperti ini, masyarakat bisa benar‑benar memanfaatkan ruang digital sebagai zona positif, edukatif, dan produktif, sekaligus mengurangi risiko kekerasan yang muncul akibat penggunaan yang tidak bijak.Ruang digital memiliki potensi besar untuk membawa dampak positif, tetapi juga bisa menjadi arena produksi kekerasan jika masyarakat tidak dibekali literasi yang memadai. Akademisi menegaskan pentingnya pendidikan digital dan perilaku online yang bijak agar internet menjadi ruang yang aman, sehat, dan produktif bagi semua pengguna.